Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, November 3, 2011

Saving The Oldest Dance

I haven’t seen you in ages
Sometimes I find myself wondering where you are
For me you are always be 18 and beautiful…
And dancing away with my heart…

Dancing Away with My Heart by Lady Antebellum
-------------------------------------------------------------------------------------------------

“It’s been a while…” kataku dan sebuah senyuman terbentuk dari bibir tipis bergaris tegasnya yang selalu kuingat sepanjang hidup 24 tahunku. Bibir hangat sama yang mengecupku malam itu, malam perpisahan sekolah kami dulu. Ia masih seperti yang kuingat, wajah tirus berahang tegas dengan hidung mancung bangir, matanya tajam berwarna cokelat muda dengan rambut hitam legam. Ia bertambah tampan seiring dengan berjalannya waktu dan tubuhnya semakin jangkung. Aku ingat benar bagaimana rasanya bersandar di bahu kokohnya dan menghirup wangi tubuh maskulinnya, aku tidak akan pernah melupakan hari itu—hari pertama kami berbicara sekaligus hari terakhir kami bertemu. Ya, kami berdansa dibawah kerlipan lampu cokelat klasik di salah satu taman restaurant yang disewa sekolah kami untuk malam perpisahan. Aku selalu ingat saat itu…

“Iya, sudah berapa lama? Tujuh tahun kah?” jawabnya sambil menatapku dibalik kaca matanya. Ia tampak sangat professional hari ini dengan setelan bisnis bernuansa hitam—ya, dia sangat menyukai warna hitam. Seperti malam itu ketika ia mengenakan tuksedo hitam, tampak sangat cemerlang seperti seorang pangeran. Entah mengapa pangeran itu menghampiriku lalu kami berdansa semalaman setelahnya. Padahal aku adalah si gadis geek fotografer koran sekolah, aku bukan siapa-siapa sedangkan dia adalah seseorang. Bagaimana tidak? Ia tampan, pintar dan kapten sepakbola sekolah kami. Gadis mana yang tidak memujanya? Tetapi, ia memintaku berdansa dengannya dan tidak ada gadis lain bergelayut di lengannya. Akulah satu-satunya gadis beruntung yang memilikinya malam itu.

“Ya, aku rasa juga sudah selama itu,” kataku menyesap pelan cokelat vanilla dari cangkir kecil dalam genggamanku, berharap cairan hangat itu bisa menenangkan gejolak sistem syarafku.

“Ini kebetulan yang menyenangkan, Ahava. Kemarin siang aku diberitahu oleh sekretarisku kalau ada majalah bisnis ingin mewawancaraiku hari ini dan disinilah kita berada sekarang,” ia tersenyum separuh. Senyum separuh yang selalu membuat nafasku tercekat dan tersenyum juga karena mengingat kalau dengan senyuman itu juga ia mencuri ciuman pertamaku.

“Sebenarnya aku juga tidak yakin kalau kamu adalah orang yang akan aku wawancarai hari ini. Aku mengira akan ada orang lain dengan nama sama yang akan menungguku disini,” jawabku tenang.

“Ternyata kamu tidak mengenalku dengan baik, Ahava…” ujarnya datar sambil menatapku dengan tatapan playful mematikan.

“Kamu enggak pernah memberiku kesempatan untuk itu,” kataku tidak bisa menahan diriku.

Kami berpisah setelah pesta dansa malam itu. Ia tidak menghubungiku setelahnya dan aku juga tidak punya cukup keberanian untuk menghubunginya. Malam itu bagaikan dongeng dan seperti kebanyakan dongeng, waktunya sangat singkat dengan alur cerita pendek. Sayangnya, dongengku tidak berakhir bahagia. Pangeranku pergi ke negeri antah-berantah tanpa membawaku serta. Aku pernah berpikir mungkin aku bukan bagian dari cerita dongeng yang sesungguhnya, mungkin aku bukan tokoh putri utama dalam dongeng tersebut. Aku hanyalah bumbu pengawal dongeng itu, sama seperti Oddete dalam cerita Swan Lake. Seorang putri angsa dengan nasib tragis.

“Aku melakukannya demi kebaikan kita berdua, Ahava.”

“Tidak ada kebaikan ataupun keburukan di antara kita. Kita tidak pernah sampai pada kesimpulan apapun, sadarkah kamu akan hal itu?”

“Iya. Aku tahu kalau aku berhutang banyak padamu bahkan semenjak pertama kali aku bertemu denganmu. Hutangku dimulai pada detik itu, detik dimana kita bertemu untuk pertama kalinya.”

Aku menatapnya bingung, tidak mengerti maksud dari kata-katanya dan tanpa aku sadari aku menyuarakan rasa penasaranku. Ia menjawabnya dengan senyuman—lagi-lagi senyuman itu, aku mulai membenci sekaligus memuja senyuman itu.

“Bukankah tujuan kita bertemu disini untuk wawancara bisnis, Ahava?” tanyanya ringan, dengan halus mengalihkan topic pembicaraan kami.

Aku melengos pelan dan tiba-tiba teringat akan kewajibanku disini, mewawancarai pengusaha muda dan sukses dihadapanku. Sebuah pena, alat perekam, dan buku kecil kususun rapi di meja—aku sudah siap mewawancarainya. Dari ekor mataku, aku bisa melihat ia tersenyum geli melihat kerepotanku membereskan peralatan ‘tempur’-ku. Aku memilih untuk mengabaikan cengiran itu dan fokus pada daftar pertanyaan yang telah disusun. Kubaca dengan cepat daftar pertanyaan dan merona malu begitu melihat pertanyaan ‘titipan’ Tina—rekan kantorku. Belum menanyakannya saja perutku sudah seperti dijungkirbalik.

Aku berdeham pelan untuk menyingkirkan perasaan canggung itu dan memulai wawancaraku.

“Well, nama?” tanyaku tersenyum kecil.

“Kau lebih tahu daripadaku, Ahava…”

Aku memutar bola mataku merasa aneh dengan pertanyaan yang baru kuajukan. “Status?”

Kali ini gilirannya tersenyum menggoda, “Singel?”

“Kamu tampak ragu,” ujarku menanggapi.

“Penasaran, Ahava?”

Aku mengerang pelan, tidak berniat untuk meneruskan kebodohan ini. “Kamu kan yang minta aku untuk professional, remember?”

“Aku sangat mengingatnya, Ahava,” nada suaranya menyiratkan hal lain tapi aku buru-buru mengabaikan perasaan itu.

“Well, next question…”

Tanya jawab ringan dan professional itu berlangsung cukup cepat dan efisien mengingat jam kerjaku yang ketat dan begitu pula dengan jam kerjanya. Pertanyaan-pertanyaanku standard dan berkaitan dengan profilnya yang akan menghiasi rubric profil di majalah bisnis tempatku bekerja minggu depan. Aku sangat yakin kalau aku akan mengambil salah satu hasil cetakannya dan membacanya berulang-ulang—atau mungkin lebih tepatnya memandaing fotonya seperti remaja sinting jatuh cinta.

“Apakah itu sudah semuanya?” tanyanya menatapku menutup buku kecilku.

“Kurasa, ya…” jawabku agak kecewa sambil memasukkan buku, pulpen serta voice recorder ke dalam tas ku. Ternyata waktunya memang terlalu singkat.

“Apakah ini saatnya kita berpisah?” tanyanya lagi dan membuatku menatapnya.

“Ya…” kataku pelan langsung mengalihkan tatapanku ke tampat lain. Aku tidak ingin ia membaca kekecewaanku.

“Apakah kita harus mengucapkan selamat tinggal kali ini?”

“A-aku…”

“Aku sudah membayar hutang tiga tahun-ku padamu, Ahava.”

“Tiga tahun? Aku enggak ngerti,” kataku makin bingung.

“Aku berhutang karena selama tiga tahun di sekolah aku tidak pernah punya keberanian untuk bicara padamu, mengenalmu, menggenggam tanganmu, mengecupmu, tetapi aku sudah membayarnya malam itu.”

Aku terdiam, menginginkan ia berbicara lebih jauh, memberi penjelasan lebih dalam.

“Malam itu akhirnya aku menendang keras diriku yang pengecut dan mengajakmu berdansa. Menatapmu dari dekat—sangat dekat dan menggenggam tanganmu, menjadi sandaranmu walau hanya sesaat dan mengecupmu ketika malam berakhir. Aku sudah membayar hutangku saat itu, Ahava.

“Maafkan atas kekurang ajaran dan keegoisanku malam itu. Padahal aku tau kalau aku tidak bisa memberimu lebih daripada itu.”

“Apa karna aku tidak pantas?” tanyaku pelan.

“Kau lebih dari pantas, kau sangat sempurna. Aku tidak berhak memiliki kesempurnaanmu saat itu, Ahava. Lagipula sehari setelah prom aku harus langsung berangkat ke New York dan aku tidak mau kau memberimu kewajiban untuk menungguku.”

“Tahukah kamu kalau kamu telah merenggut pilihan yang sebenarnya kumiliki?”

Ia terdiam dan menatap mataku tajam.

“Kamu seharusnya memberiku pilihan saat itu. Mungkin aku memang ingin menunggumu…”

Dia tersenyum miris. “Ahava, kamu terlalu naïf. Cinta tidak semudah itu dan kita masih sangat muda saat itu.”

Aku mengembuskan nafas pelan, tertawa kecil karena kenaifanku mempercayai cinta sejauh itu. “Ya, kamu benar. Baiklah kalau begitu, terima kasih atas waktumu hari ini.”

Kursiku berderit sedikit ketika aku bangkit dan menyodorkan tanganku padanya. Ia menyambut tanganku dan menggenggamnya erat sambil ikut bangkit. Ia sangat tinggi dan menawan, tubuh indahnya menjulang dihadapanku. Bila aku tidak ingat betapa lembut kepribadiannya, mungkin aku sudah merasa terintimidasi oleh kharismanya.

“Bertekad meninggalkanku begitu cepat sekarang, Ahava?”

“Kamu terlalu membingungkan hari ini. Dengar, aku sibuk dan kamu juga sibuk bisakah kita berbicara lebih to the point?”

“Mulai saat ini aku akan mencicil pembayaran hutangku padamu.”

“Haruskah kita terus berkutat dengan perumpamaan? Gosh! Kamu baru saja bilang kalau hutangmu sudah lunas dan FYI aku sama sekali tidak cukup kaya untuk memberi hutang padamu.”

“Ya, aku masih berhutang dan berencana untuk melunasinya…”

“Hah?”

“Well, aku kira kamu bilang kalau kita sama-sama sibuk dan aku baru ingat kalau aku ada meeting setengah jam lagi. Drive safely, Ahava…”

Ia melepaskan genggaman tangannya dan mengusap pipiku lembut sebelum berjalan keluar dari lounge. Dan begitulah ia, seorang pangeran tanpa kekang yang meninggalkanku untuk kedua kalinya…

Aku bergeming sesaat sebelum kembali tersadar dari anganku tentangnya. Aku tersenyum kecil menyadari betapa masih naïf nya aku, berharap ia akan tergugah ketika kami akhirnya bertemu lagi dan menyelesaikan yang tak terselesaikan tapi ternyata pesta dansa itu adalah penyelesaian terakhir.

Langkah kakiku membawaku keluar dari lounge dan pusat perkantoran mewah itu dan tak lama setelah itu scooter matic ku sudah turut ambil bagian dalam kemacetan kota. Otakku kembali dipenuhi deadline yang harus segera kupenuhi dan angan tentangnya pun terhapus dari pikiranku.

****
Pagi itu aku berjalan di lobby kantor dengan gontai, masih mengantuk akibat mengerjakan deadline artikel semalaman. Hari ini aku harus mulai menyusun profilnya sehingga kemarin malam aku harus mengerjakan deadline artikel lain agar bisa fokus dengan artikel profilnya. Aku merasa terkutuk sekaligus bersyukur karena kebagian menulis profil tentangnya.

“Good morning, Va!” ujar Tina kelewat bahagia melihat kedatanganku, rekan kerjaku yang satu itu memang terlalu ceria bahkan di pagi hari seperti sekarang.

“Pagi, Tina,” ujarku tidak bersemangat. “I need coffee…”

“Honey, I don’t think you will need any energy booster this morning,” kata Tina tersenyum penuh arti padaku.

“You look compromising,” tanggapku curiga.

“Have a very lovely day, lucky bitch!” Tina ngeloyor pergi dan aku hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan gadis imut bertubuh gempal itu kembali ke meja nya. Tina adalah bagian team creative pengemas halaman dan cover. Otaknya terlalu kreatif sehingga ia kemarin menyuruhku menanyakan statusnya apakah ia masih lajang atau tidak. Ya, begitulah Tina dan sayangnya aku tidak bisa berkata tidak padanya.

Dengan malas-malasan kuseret diriku ke mejaku. Meja sempit tetapi nyaman dan penuh inspirasi. Sebuah rangkaian bunga lily dan lavender tergeletak di mejaku disertai dengan kartu putih. Pelan-pelan aku meletakkan tas kerjaku di kursi dan meraih bunga itu. Kubaca kartunya berulang-ulang dan mengusap goresan tinta hitam itu dengan ujung jariku…

Dear my beautiful dancing partner…

Aku masih punya banyak hutang padamu. Hutang saat aku pergi kuliah ke New York dan hutangku untuk tahun-tahun setelahnya. Aku berencana membayarnya beserta dengan bunga-nya. Sebagai ekonom, aku menghitung hutangku beserta bunga nya dengan teliti dan ternyata hasilnya adalah ‘selamanya’. Aku tidak tahu apakah selamanya cukup bagimu untuk membayar segala hutangku.

Maukah kau berhitung denganku sore ini di sebuah toko kue kecil di sudut jalan Kota? Toko kue yang menjual kiwi cheese cake kesukaanmu. Aku hanya ingin memastikan hasil perhitunganku akurat agar aku tidak melewatkan satu detik pun hutang waktuku padamu.

Almer

Thursday, July 22, 2010

Behind That Big Window


image by http://edu-action.com/blog/


Anette mengetuk-ngetukkan kukunya di meja, menunggu adalah pekerjaan yang paling ia benci. Membosankan, itu alasannya, dan satu lagi buang-buang waktu. Ia seorang workaholic, kehidupan mengajarkannya untuk demikian itulah sebabnya waktu adalah kerja untuk menghasilkan sesuatu, bukah hanya uang tapi juga nama dan kehormatan. Berasal dari keluarga biasa-biasa saja dengan ibu seorang rumah tangga biasa dan ayah seorang pekerja kantoran dengan gaji sedang menjadikan Anette seorang pekerja keras. Ini bukan karna ayahnya tidak mampu, tapi karena Anette menginginkan banyak hal; traveling adalah salah satunya. Ironisnya, justru ketika ia sudah menghasilkan uang sendiri, traveling malah menjadi list terbawah. Jam kerja hectic mengikatnya tanpa ampun tapi bukannya Anette complain. That’s her life after all.

Kembali ke coffee shop tempat ia duduk sekarang, hari itu adalah hari Sabtu dan seperti biasa ia punya jadwal khusus di hari Sabtu. Tidak, bukan malam mingguan seperti orang kebanyakan menyebutnya dengan menghabiskan waktu dengan kekasih mereka, Anette lebih memilih menghabiskan hari free nya duduk-duduk di coffee shop berjendela besar dengan bermodalkan novel untuk dibaca atau menyelesaikan sisa pekerjaannya.

Today was her ‘me time’. Berbeda dengan hari Minggu dimana she was all his on Sunday. Sedikit mematahkan rules pacaran mengenai Saturday night and changed it into Sunday night.

Tapi, hari ini adalah pengecualian. Ia sudah membuat janji dengan seseorang, seseorang dari masa lalu nya.

“Hey…” seseorang menghentikan ketukan tidak sabar kuku berkuteks merah milik Anette di meja kayu bundar khas coffee shop itu.

Anette menatap mata cokelat di hadapannya. Seperti biasa ia berpakaian casual dengan kaos hitam dan celana pendek, serta sandal jepit. So typical Daniel.

“Kamu telat…” sahut Anette menatap Daniel.

Daniel hanya tersenyum separuh membuat Anette harus menahan nafasnya dan berpikir ulang mengapa ia berani mengajak Daniel untuk bertemu, mungkin ini bukan ide yang baik setelah bertahun-tahun Daniel pergi meninggalkannya.

Tidak, tidak, ia harus bisa.

Daniel mengambil tempat duduk di samping Anette sementara itu Anette mengamati cowok itu lekat-lekat. Rambut urakan Daniel sudah melebihi tengkuknya, wajahnya tidak dicukur sehingga ada facial hair tipis di sekitar dagu dan pipinya, kulitnya—seperti biasa—terlihat habis terbakar matahari, well it did look sexy. Ia adalah perfect opposite dari dunia Anette. Mungkin ini salah satu mengapa mereka hanya bagian dari masa lalu.

“Done checking me out?” ujar Daniel dengan kilatan nakal di matanya.

Anette tersenyum simpul, “ You never change a bit you know that?”

Daniel mengangkat bahunya cuek dan menatap gadis cantik di hadapannya. Anette memakai atasan santai tapi tetap terkesan formal—sama seperti tabiatnya yang selalu serius—dengan skinny jeans berwarna gelap. Sekilas Daniel mencium lembutnya aroma lily, aroma tubuhnya masih sama. Kemudian wajah itu, wajah angkuh penuh pride nya pun masih sama, ingin sekali Daniel mengecup bibir merah gadis itu tapi ia tahu Anette tidak akan menyambutnya dengan baik. Betapa Daniel masih menginginkan gadis itu meski tiga tahun telah berlalu. Sewaktu Anette mengajaknya ketemuan di coffee shop tempat mereka biasa bertemu, Daniel hampir terkena serangan jantung. Untung saja saat itu ia sudah pulang ke Indonesia selepas berpetualang berkeliling Afrika. Ia adalah petualang alam. Ya, ia petualang sementara Anette adalah wanita yang patuh pada rules kehidupan. Tidak seperti dirinya.

“I can say the same, Anette. Jadi, kenapa kamu tiba-tiba ngajak ketemuan after all these years?”

Anette menarik nafas dan mengembuskannya pelan, mencoba menenangkan emosinya. Daniel selalu punya kemampuan untuk membuat seorang cold bitch seperti dirinya mencair, ia tidak perlu berusaha keras sebab kehadirannya saja sudah membuat Anette hampir lupa bagaimana caranya berpikiran jernih dan mengeluarkan trick untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Nervous much huh?” tanya Daniel mencondongkan tubuhnya ke arah Anette membuat gadis itu menelan ludah, ia tidak tahan dengan aroma maskulin itu. Ya Tuhan, ia kangen aroma ini, ia kangen orang yang ada di hadapannya, entah bagaimana ia bisa membiarkan hal ini terjadi lagi.

“Dan…”

Daniel mengelus lembut pipi Anette, he couldn’t help himself. Jantungnya serasa berhenti berdetak, perasaan itu merasuk lagi. Berpetualang adalah hidupnya tetapi Anette adalah rumahnya sekaligus petualangannya yang paling seru.

“I missed you…” ujar Daniel.

Anette memejamkan matanya.

“Always have and always will,” kata Daniel, ia ingin sekali mengecup lembut kening gadis itu tapi ia sudah cukup mencoba keberuntungannya hari ini. Bisa menyentuh kulit halus ini saja ia sudah bersyukur.

Anette membuka matanya tiba-tiba, ia sadar kalau ia harus mengatakan hal penting kepada Daniel.

“I’m done with my adventure, Anette…” ujar Daniel. “I think I need to go home.”

Kebisingan di coffee shop itu seakan berhenti. Suara sekumpulan wanita bercengkerama heboh di salah satu pojok ruangan tidak terdengar lagi, barista yang memanggil orang-orang untuk mengambil pesanannya pun menjadi sayup, Anette menatap Daniel, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan cowok itu. Tiga tahun lalu ia meminta waktu kepada Anette untuk mengakhiri hubungan mereka sebab Daniel tau kalau dirinya adalah petualang sementara Anette bukan orang yang suka berpetualang. Ya, ia suka traveling tapi itu hanya untuk waktu senggang bukan menjadi hidupnya. Anette pun setuju saat itu meskipun patah hati setelah nya tidak terampunkan sakitnya.

Berbulan-bulan ia hidup dalam kenangannya. Kenangan dimana hidupnya tidak lagi teratur semenjak kedatangan Daniel. Setiap orang punya filosofi masing-masing mengenai cinta, filosofi cinta Anette tentang Daniel adalah ketidakteraturan. Semenjak Daniel hadir di kehidupannya, semuanya menjadi tidak teratur. Daniel membuatnya melanggar banyak peraturan hidupnya.

Daniel tidak pernah peduli pada dunia di sekitarnya sehingga ia tidak segan-segan mengajak Anette berdansa di sebuah toko CD hanya karena lagu kesukaan mereka diputar saat itu. Meskipun Anette yang sudah malu setengah mati berusaha menghentikannya, namun ia adalah Daniel, tidak ada yang bisa menghentikan keunikannya. Jadilah mereka berdansa seperti orang bodoh di dalam toko CD, untung saja saat itu tidak terlalu ramai. Moment konyol memang tapi tidak akan pernah terlupakan.

Daniel bukan orang yang taat pada peraturan, ia mengetuk jendela Anette pada tengah malam ketika hujan deras mengguyur bumi hanya untuk meminta maaf atas pertengkaran hebat mereka. Anette mencoba mengusirnya karna ia tidak ingin membangunkan orangtuanya dan mendapat masalah, tapi ia Daniel; He didn’t care. Anette hanya bisa menatapnya di tengah hujan yang mengguyur mereka berdua sampai kata maaf terlontar dari mulut cowok itu. Mau tidak mau Anette tersenyum sementara Daniel bernafas lega lalu merengkuh Anette dalam pelukannya. Hangat dalam pelukan the famous bad boy, Anette tidak peduli hujan semakin deras mengguyur mereka.

Daniel adalah hidup Anette sampai ketika kisah mereka berakhir. Satu tahun penuh kegilaan dan keunikan. Satu tahun dimana Anette menjadi rules’ breaker dan merasa lebih hidup. Kisah penuh ketidakteraturan pertama yang ia sukai.

Tiba-tiba ketidakteraturan itu harus berakhir dan disinilah mereka berada. Tiga tahun tidak bertemu, sekarang duduk berhadapan di coffee shop favorite mereka.

“Maksud kamu apa?” tanya Anette memincingkan matanya menatap Daniel.

“I don’t know, maybe I’m ready now…” Anette tahu gesture itu. Daniel bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan apa yang ia mau secara verbal dan Anette hafal benar kebiasaan itu.

Anette memejamkan matanya, ia tahu kalau ia terlalu banyak membuang waktu disini. Ia mengembuskan nafas panjang dan menunjukkan cincin di jari manis tangan kanannya.

Air wajah Daniel berubah.

“Inilah alasan kenapa aku mau ketemu kamu,” kata Anette berusaha mengontrol emosinya. Ia harus bisa mengakhiri ketidakjelasan ini.

“Aku enggak bisa hidup dengan masa lalu, Daniel. Kamu adalah yang terbaik yang pernah terjadi di hidup aku. But as we always said to each other we’re the perfect opposite.”

Anette tidak bisa menatap mata Daniel, sebaliknya ia menatap ke luar melalui jendela besar di coffee shop itu.

“Kita adalah masa lalu, sebesar apapun rasa yang kita miliki saat itu kini kita sudah menjadi masa lalu. Udah saatnya kita mengakhiri masa lalu kita dan menatap ke depan…”

Tiba-tiba saja ucapan Anette terhenti ketika Daniel merengkuh wajahnya. “Look at me and say that you don’t love me anymore because honestly I’m still in love with you…”

Anette tidak bisa memalingkan wajahnya dari Daniel, ya, rasa itu masih ada meskipun ada Ezekiel di sampingnya sekarang, the perfect guy. Laki-laki idaman semua wanita di dunia ini dan yang terpenting Ezekiel sangat mencintainya. Tidak ada peraturan yang dilanggar bersama Ezekiel. Namun, Anette sadar kalau setiap petualangan harus berakhir untuk mengecap sebuah istirahat panjang dan mendapatkan hidup yang stabil. Mungkin ada orang-orang yang tidak pernah ingin petualangannya berakhir tapi Anette hanyalah satu dari sekian banyak wanita di dunia yang ingin hidup tenang tanpa pacuan adrenalin. Ia ingin mengikuti fase kebanyakan orang dan hidup bahagia. Kolot memang, tapi bukankah hal itu adalah hal yang terbaik?

“I love you…” akhirnya kalimat itu terlontar dari mulut Anette.

Sebuah senyum tersungging di wajah Daniel, “That’s all I wanna hear…”

Daniel mencondongkan tubuhnya untuk mengecup Anette tapi tiba-tiba gadis itu menghentikannya.

“Tapi bukan ke arah sana, Daniel…”

“Maksud kamu?”

“Ya, aku sayang sama kamu tapi bukan untuk kembali lagi. What we had was really amazing. I love every single thing about you tapi hidup harus berlanjut. Kamu enggak bisa pergi dan meninggalkan jejak kaki yang merubah hidupku selama bertahun-tahun lalu kembali dan berharap aku masih sama. Ya, perasaan itu masih sama tapi pandangan hidupku sudah berubah. We’re all growing up, Daniel…”

“Is love not enough?”

“Terkadang hati harus mendengarkan pikiran. Kata hati bukanlah satu-satunya insting yang kita punya. I’ve moved on and I wish for the exactly same thing for you…”

Ingin sekali Anette menangis karena luka di hatinya terbuka kembali tapi ia tahu kalau ini adalah yang terbaik. Ia punya masa depan terbentang di hadapannya, mungkin Daniel pernah menjadi kebahagiannya tapi ia tahu kalau hidup harus terus berjalan.

Sama seperti sebuah awal yang pasti maka apabila sebuah akhir datang maka kita harus bisa tegas menentukan pilihan. Tidak ada yang setengah-setengah untuk mendapatkan yang terbaik. Anette sudah memilih, ia harus mengakhiri masa lalunya dengan tegas sebelum membentuk awal yang baru.

“Aku harus pergi…” ujar Anette. Ia tidak ingin tinggal lama-lama dan membiarkan keadaan membuatnya berubah pikiran. Ia tidak ingin bermain dengan hatinya, ia tahu kapasitasnya dan juga kapasitas Daniel.

Anette bangkit dari tempat duduknya, ia menatap Daniel kemudian mengusap pipi Daniel lembut.

“You’ll find another me…I know you will. Your past will always be mine, that’s who I am; your past. Mine too will always be yours. Goodbye, Daniel…”

Anette melangkahkan kakinya keluar dari coffee shop itu. Menahan sakit di hatinya tapi ia sudah pernah melewati sakit ini di masa lalu, kali ini akan menjadi lebih mudah. Lebih dari itu, ia lega.

Tiba-tiba tangan Anette digenggam erat oleh sebuah tangan yang hangat.

“Well well well…” ujar suara berat penuh kehangatan.

Anette menatap Ezekiel disampingnya, Ezekiel memberikannya sebuah senyuman sebelum menarik tubuh Anette merapat di sisinya.

“I’m sorry…” ujar Anette lirih, menghentikan langkahnya dan memeluk Ezekiel erat.

“Untuk apa?”

“Aku enggak tau…” guman Annete di dada Ezekiel sambil memejamkan matanya.

“Hey, if it’s about him, it’s okay, Love…” Hiel melepaskan Anette dan merengkuh wajahnya. “He’s your past and I respect every single thing of your memories. But I am your future, ain’t I? Jadi kenapa aku harus khawatir?”

Anette tersenyum. Mungkin ia akan selalu merindukan kehidupan bersama Daniel tapi ia tahu kalau inilah hidupnya sekarang dan ia juga sudah menggambarkan kehidupannya di masa depan dengan harapan juga cita-citanya.

Bad boys always has their own way to make girls run back to their arms, but a perfect guy would never ever let you go that’s why you don’t have to run back because they’re holding you perfectly steady in their arms…

Setiap petualangan pasti ada tempat perhentiannya dan Ezekiel adalah perhentian Anette.