Dear my beautiful dancing partner…Aku masih punya banyak hutang padamu. Hutang saat aku pergi kuliah ke New York dan hutangku untuk tahun-tahun setelahnya. Aku berencana membayarnya beserta dengan bunga-nya. Sebagai ekonom, aku menghitung hutangku beserta bunga nya dengan teliti dan ternyata hasilnya adalah ‘selamanya’. Aku tidak tahu apakah selamanya cukup bagimu untuk membayar segala hutangku.Maukah kau berhitung denganku sore ini di sebuah toko kue kecil di sudut jalan Kota? Toko kue yang menjual kiwi cheese cake kesukaanmu. Aku hanya ingin memastikan hasil perhitunganku akurat agar aku tidak melewatkan satu detik pun hutang waktuku padamu.Almer
Thursday, November 3, 2011
Saving The Oldest Dance
Saturday, April 16, 2011
The Rescue
Jacob Ezekiel, Isaiah Zephaniah, Yehiel Asher, and Sunshine Fiddleria
Hari Jumat kemarin akhirnya saya dan sahabat saya Pratiwi Wulandari menghabiskan quality time di Mc.D sambil mencoba menu sarapan baru Mc.D setelah menghadapi ujian sunny-cloudy. Topik pembicaraan kami random seperti biasanya, sesuai mood. Beberapa tentang kaum Adam lainnya tentang masa lalu, dan…well, tadaaam! We were talking about parenting. Based on that conversation me and Wulan promised each other to write some things that we’ll do when we have children in the future.

Saya selalu ingin punya anak cowok, itulah kenapa saya menulis tiga nama cowok di atas dan satu anak perempuan. Saya selalu suka nama Sunshine untuk anak perempuan. Di masa depan saya pengen punya--tadinya saya berpikir tentang 2 tapi 4 anak terdengar menyenangkan. Yaaah…semua kan Tuhan yang menentukan tapi boleh kan kalo saya sedikit banyak merencanakan keberadaan my beloved partners in crimes? =)
Jadi, kalau saya sudah punya anak maka saya akan melakukan hal-hal di bawah ini:
1. Menjadikan mereka teman. Saya lah tempat curhat favorit mereka. Saya lah pendengar terbaik milik mereka. Saya lah teman hang out favorit mereka.
2. Saya akan memperkenalkan mereka dengan instrument musik. Mereka bebas memilih mereka mau main music apa. Saya berimajinasi kalau satu keluarga bisa main music semua pasti akan sangat seru!
“When the night was coming, I would play a sweet lullaby for them with my violin. Or their Daddy would play a soft piano song for them until they’re drifting off to their sweet dreams…”
3. Membelikan mereka banyak buku-buku dongeng, jadi saya akan menyuruh mereka memilih buku mana yang ingin dibacakan sebelum mereka tidur.
4. Mengajari mereka berolah raga terutama untuk anak-anak cowok. Intinya adalah pola hidup sehat.
5. Ketika anak saya masih kecil-kecil sebisa mungkin saya tidak mau mengajak mereka ke mall. Lebih baik saya mengajak mereka ke taman bermain, kebun binatang, museum, konser musik, well…saya tidak mau anak saya jadi konsumtif nantinya.
"Or I'm gonna take them play in our backyard which is beach. We're gonna swim or build a sand castle. Yes, I'm dreaming about a beach house..."
6. Travelling keluarga. Saya mau memperkenalkan travelling pada anak-anak saya.
7. Menanamkan: “Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan…” Supaya mereka bisa respect dan disayangi oleh orang-orang sekitarnya.
8. Menanamkan: “Keluarga adalah yang paling penting…” Supaya mereka lebih mementingkan acara keluarga daripada keluar bersama teman-temannya kecuali bila acara itu sangat penting. Karena jujur saja saya merasa kalau saya adalah orang yang sangat mementingkan teman, terkadang melebihi keluarga. That’s why I don’t want my children do the same mistake that I did.
9. Mendekatkan anak-anak cowok saya Daddy nya dan saya akan merangkul anak perempuan saya supaya mematahkan mitos kalau anak cowok pasti bentrok sama Daddy nya, begitu juga dengan anak perempuan dengan Momma nya.
10. Bila mereka sudah besar dan ingin mencoba sesuatu seperti clubbing, I will go with them. Tapi saya juga akan jujur kepada mereka kalau saya tidak suka tempat seperti itu, dimana music terlalu besar, gelap, penuh dengan orang mabuk atau apapun jenisnya. Saya akan membuat mereka mempertimbangkan sendiri dan memilih sambil saya arahkan. Mungkin, saya akan mengajak mereka keluar dan menonton konser yang nyata-nyata akan lebih bermanfaat dan menyenangkan. No offense clubbers! =)
11. Yang terakhir dan terpenting. Saya ingin mereka mencintai Tuhan yang mereka kenal. Saya akan bawa mereka Sekolah Minggu, mengajarkan mereka berdoa, membaca Alkitab supaya mereka familiar dengan suasana ibadah dan keyakinan serta iman di hati mereka timbul bukan karena keyakinan ‘turunan’ dari kedua orangtua nya tapi saya ingin mereka yakin karena hati mereka yang memilih.
Huaaah! How cool was that? Me. Priska Sufhana. Is. Talking. About. Parenting. PARENTING? Gosh! Hahahaha. Well, I think I must stop now before I increase my desire to have children. =P
Wednesday, March 30, 2011
Elegy
Separation was weird. Some people considering it as a normal thing, but others said it was the moment of sadness. I agreed with the second opinion for now. Separation was breaking our hearts which was painful and it was sucks.
When she held me so tight and said goodbye plus thank you I felt okay but when I saw she was walking away from that door… I felt like there was a part of me that would be gone with her.
I’m gonna miss a moment where I went to her room and did some crazy stuff. Talked for hours till we both fell asleep. Wrote in a coffee shop till we both ended up wrote nothing because we talked more instead.
I know it’s silly and super cheesy but I’m gonna miss you…
I know you’re gonna laugh when you read this post because I was the one whom being the expressionless—I’m not good at showing off any emotion. Too much happen today and you know that I have to study it out first.
Just remember this is what you want though, so I want you to go for it…
We’re gonna be fine.
Best friends will always has their own way to meet again and when we meet we’ll still be the same…
Sincerely,
Your Most Favorite Love Struck and Cold Bitch Boho Mate
Friday, July 23, 2010
I Wish...
So I could claim every creature in it
But I’m not, so I can’t claim every creature including you…
I wish I was The Hand of Life
So I could manage every life in the world like I wanted
But I’m not, that’s why I can’t manage to make you mine…
I wish I was Fate
So I could make everyone’s fate
But I’m not, that’s why destiny never allows us to be together…
I wish I was The Time Machine
So I could turn back time
But I’m not, that’s why I couldn’t repeat our memories and repair my mistake that made me lose you…
I wish I was The Watchmen
So I could watch what every single human does now
But I’m not, that’s why I can’t see you…
I wish I was The Mind Reader
So I could read everyone’s thoughts
But I’m not, that’s why I never know what you want and what you’re thinking about me…
I wish I was a Psychologist
So I could read everyone’s eyes
But I’m not, that’s why I’m blind and never know what your eyes are trying to say…
I wish I was a Comedian
So I could make everyone laugh
But I’m not, that’s why you never laugh with me…
I wish I was a Dream Maker
So I could make everyone dream while they’re sleeping
But I’m not, that’s why I can never be part of your dream…
I wish I was Cupid
So I could make everyone in love with each other
But I’m not, that’s why there’s no Cupid arrow between us…
I wish I was a Star
So everyone would be in awe because of my light when they saw me at night
But I’m not, that’s why you never saw me…
I wish I was the Princess in Disney’s stories
So I could have Prince Charming and live happily ever after
But I'm not and you as my Prince Charming are not with me that’s why we are not live happily ever after...
I wish I was Amnesia’s Patient
So I could forget every memory that I have
But I’m not, that’s why I can never forget anything about you…
I wish I was other people
So I would never know you and fall so deep like this
But I'm not, that's why I've insanely-entirely-deeply-absolutely fallen hard for you like this...
I’m not…
And I never will be those personalities…
But I wish…
Even I wish I was the one that you love
But I’m not…
That’s why you’re not with me now…
Thursday, July 22, 2010
Behind That Big Window
Anette mengetuk-ngetukkan kukunya di meja, menunggu adalah pekerjaan yang paling ia benci. Membosankan, itu alasannya, dan satu lagi buang-buang waktu. Ia seorang workaholic, kehidupan mengajarkannya untuk demikian itulah sebabnya waktu adalah kerja untuk menghasilkan sesuatu, bukah hanya uang tapi juga nama dan kehormatan. Berasal dari keluarga biasa-biasa saja dengan ibu seorang rumah tangga biasa dan ayah seorang pekerja kantoran dengan gaji sedang menjadikan Anette seorang pekerja keras. Ini bukan karna ayahnya tidak mampu, tapi karena Anette menginginkan banyak hal; traveling adalah salah satunya. Ironisnya, justru ketika ia sudah menghasilkan uang sendiri, traveling malah menjadi list terbawah. Jam kerja hectic mengikatnya tanpa ampun tapi bukannya Anette complain. That’s her life after all.
Kembali ke coffee shop tempat ia duduk sekarang, hari itu adalah hari Sabtu dan seperti biasa ia punya jadwal khusus di hari Sabtu. Tidak, bukan malam mingguan seperti orang kebanyakan menyebutnya dengan menghabiskan waktu dengan kekasih mereka, Anette lebih memilih menghabiskan hari free nya duduk-duduk di coffee shop berjendela besar dengan bermodalkan novel untuk dibaca atau menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Today was her ‘me time’. Berbeda dengan hari Minggu dimana she was all his on Sunday. Sedikit mematahkan rules pacaran mengenai Saturday night and changed it into Sunday night.
Tapi, hari ini adalah pengecualian. Ia sudah membuat janji dengan seseorang, seseorang dari masa lalu nya.
“Hey…” seseorang menghentikan ketukan tidak sabar kuku berkuteks merah milik Anette di meja kayu bundar khas coffee shop itu.
Anette menatap mata cokelat di hadapannya. Seperti biasa ia berpakaian casual dengan kaos hitam dan celana pendek, serta sandal jepit. So typical Daniel.
“Kamu telat…” sahut Anette menatap Daniel.
Daniel hanya tersenyum separuh membuat Anette harus menahan nafasnya dan berpikir ulang mengapa ia berani mengajak Daniel untuk bertemu, mungkin ini bukan ide yang baik setelah bertahun-tahun Daniel pergi meninggalkannya.
Tidak, tidak, ia harus bisa.
Daniel mengambil tempat duduk di samping Anette sementara itu Anette mengamati cowok itu lekat-lekat. Rambut urakan Daniel sudah melebihi tengkuknya, wajahnya tidak dicukur sehingga ada facial hair tipis di sekitar dagu dan pipinya, kulitnya—seperti biasa—terlihat habis terbakar matahari, well it did look sexy. Ia adalah perfect opposite dari dunia Anette. Mungkin ini salah satu mengapa mereka hanya bagian dari masa lalu.
“Done checking me out?” ujar Daniel dengan kilatan nakal di matanya.
Anette tersenyum simpul, “ You never change a bit you know that?”
Daniel mengangkat bahunya cuek dan menatap gadis cantik di hadapannya. Anette memakai atasan santai tapi tetap terkesan formal—sama seperti tabiatnya yang selalu serius—dengan skinny jeans berwarna gelap. Sekilas Daniel mencium lembutnya aroma lily, aroma tubuhnya masih sama. Kemudian wajah itu, wajah angkuh penuh pride nya pun masih sama, ingin sekali Daniel mengecup bibir merah gadis itu tapi ia tahu Anette tidak akan menyambutnya dengan baik. Betapa Daniel masih menginginkan gadis itu meski tiga tahun telah berlalu. Sewaktu Anette mengajaknya ketemuan di coffee shop tempat mereka biasa bertemu, Daniel hampir terkena serangan jantung. Untung saja saat itu ia sudah pulang ke Indonesia selepas berpetualang berkeliling Afrika. Ia adalah petualang alam. Ya, ia petualang sementara Anette adalah wanita yang patuh pada rules kehidupan. Tidak seperti dirinya.
“I can say the same, Anette. Jadi, kenapa kamu tiba-tiba ngajak ketemuan after all these years?”
Anette menarik nafas dan mengembuskannya pelan, mencoba menenangkan emosinya. Daniel selalu punya kemampuan untuk membuat seorang cold bitch seperti dirinya mencair, ia tidak perlu berusaha keras sebab kehadirannya saja sudah membuat Anette hampir lupa bagaimana caranya berpikiran jernih dan mengeluarkan trick untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Nervous much huh?” tanya Daniel mencondongkan tubuhnya ke arah Anette membuat gadis itu menelan ludah, ia tidak tahan dengan aroma maskulin itu. Ya Tuhan, ia kangen aroma ini, ia kangen orang yang ada di hadapannya, entah bagaimana ia bisa membiarkan hal ini terjadi lagi.
“Dan…”
Daniel mengelus lembut pipi Anette, he couldn’t help himself. Jantungnya serasa berhenti berdetak, perasaan itu merasuk lagi. Berpetualang adalah hidupnya tetapi Anette adalah rumahnya sekaligus petualangannya yang paling seru.
“I missed you…” ujar Daniel.
Anette memejamkan matanya.
“Always have and always will,” kata Daniel, ia ingin sekali mengecup lembut kening gadis itu tapi ia sudah cukup mencoba keberuntungannya hari ini. Bisa menyentuh kulit halus ini saja ia sudah bersyukur.
Anette membuka matanya tiba-tiba, ia sadar kalau ia harus mengatakan hal penting kepada Daniel.
“I’m done with my adventure, Anette…” ujar Daniel. “I think I need to go home.”
Kebisingan di coffee shop itu seakan berhenti. Suara sekumpulan wanita bercengkerama heboh di salah satu pojok ruangan tidak terdengar lagi, barista yang memanggil orang-orang untuk mengambil pesanannya pun menjadi sayup, Anette menatap Daniel, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan cowok itu. Tiga tahun lalu ia meminta waktu kepada Anette untuk mengakhiri hubungan mereka sebab Daniel tau kalau dirinya adalah petualang sementara Anette bukan orang yang suka berpetualang. Ya, ia suka traveling tapi itu hanya untuk waktu senggang bukan menjadi hidupnya. Anette pun setuju saat itu meskipun patah hati setelah nya tidak terampunkan sakitnya.
Berbulan-bulan ia hidup dalam kenangannya. Kenangan dimana hidupnya tidak lagi teratur semenjak kedatangan Daniel. Setiap orang punya filosofi masing-masing mengenai cinta, filosofi cinta Anette tentang Daniel adalah ketidakteraturan. Semenjak Daniel hadir di kehidupannya, semuanya menjadi tidak teratur. Daniel membuatnya melanggar banyak peraturan hidupnya.
Daniel tidak pernah peduli pada dunia di sekitarnya sehingga ia tidak segan-segan mengajak Anette berdansa di sebuah toko CD hanya karena lagu kesukaan mereka diputar saat itu. Meskipun Anette yang sudah malu setengah mati berusaha menghentikannya, namun ia adalah Daniel, tidak ada yang bisa menghentikan keunikannya. Jadilah mereka berdansa seperti orang bodoh di dalam toko CD, untung saja saat itu tidak terlalu ramai. Moment konyol memang tapi tidak akan pernah terlupakan.
Daniel bukan orang yang taat pada peraturan, ia mengetuk jendela Anette pada tengah malam ketika hujan deras mengguyur bumi hanya untuk meminta maaf atas pertengkaran hebat mereka. Anette mencoba mengusirnya karna ia tidak ingin membangunkan orangtuanya dan mendapat masalah, tapi ia Daniel; He didn’t care. Anette hanya bisa menatapnya di tengah hujan yang mengguyur mereka berdua sampai kata maaf terlontar dari mulut cowok itu. Mau tidak mau Anette tersenyum sementara Daniel bernafas lega lalu merengkuh Anette dalam pelukannya. Hangat dalam pelukan the famous bad boy, Anette tidak peduli hujan semakin deras mengguyur mereka.
Daniel adalah hidup Anette sampai ketika kisah mereka berakhir. Satu tahun penuh kegilaan dan keunikan. Satu tahun dimana Anette menjadi rules’ breaker dan merasa lebih hidup. Kisah penuh ketidakteraturan pertama yang ia sukai.
Tiba-tiba ketidakteraturan itu harus berakhir dan disinilah mereka berada. Tiga tahun tidak bertemu, sekarang duduk berhadapan di coffee shop favorite mereka.
“Maksud kamu apa?” tanya Anette memincingkan matanya menatap Daniel.
“I don’t know, maybe I’m ready now…” Anette tahu gesture itu. Daniel bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan apa yang ia mau secara verbal dan Anette hafal benar kebiasaan itu.
Anette memejamkan matanya, ia tahu kalau ia terlalu banyak membuang waktu disini. Ia mengembuskan nafas panjang dan menunjukkan cincin di jari manis tangan kanannya.
Air wajah Daniel berubah.
“Inilah alasan kenapa aku mau ketemu kamu,” kata Anette berusaha mengontrol emosinya. Ia harus bisa mengakhiri ketidakjelasan ini.
“Aku enggak bisa hidup dengan masa lalu, Daniel. Kamu adalah yang terbaik yang pernah terjadi di hidup aku. But as we always said to each other we’re the perfect opposite.”
Anette tidak bisa menatap mata Daniel, sebaliknya ia menatap ke luar melalui jendela besar di coffee shop itu.
“Kita adalah masa lalu, sebesar apapun rasa yang kita miliki saat itu kini kita sudah menjadi masa lalu. Udah saatnya kita mengakhiri masa lalu kita dan menatap ke depan…”
Tiba-tiba saja ucapan Anette terhenti ketika Daniel merengkuh wajahnya. “Look at me and say that you don’t love me anymore because honestly I’m still in love with you…”
Anette tidak bisa memalingkan wajahnya dari Daniel, ya, rasa itu masih ada meskipun ada Ezekiel di sampingnya sekarang, the perfect guy. Laki-laki idaman semua wanita di dunia ini dan yang terpenting Ezekiel sangat mencintainya. Tidak ada peraturan yang dilanggar bersama Ezekiel. Namun, Anette sadar kalau setiap petualangan harus berakhir untuk mengecap sebuah istirahat panjang dan mendapatkan hidup yang stabil. Mungkin ada orang-orang yang tidak pernah ingin petualangannya berakhir tapi Anette hanyalah satu dari sekian banyak wanita di dunia yang ingin hidup tenang tanpa pacuan adrenalin. Ia ingin mengikuti fase kebanyakan orang dan hidup bahagia. Kolot memang, tapi bukankah hal itu adalah hal yang terbaik?
“I love you…” akhirnya kalimat itu terlontar dari mulut Anette.
Sebuah senyum tersungging di wajah Daniel, “That’s all I wanna hear…”
Daniel mencondongkan tubuhnya untuk mengecup Anette tapi tiba-tiba gadis itu menghentikannya.
“Tapi bukan ke arah sana, Daniel…”
“Maksud kamu?”
“Ya, aku sayang sama kamu tapi bukan untuk kembali lagi. What we had was really amazing. I love every single thing about you tapi hidup harus berlanjut. Kamu enggak bisa pergi dan meninggalkan jejak kaki yang merubah hidupku selama bertahun-tahun lalu kembali dan berharap aku masih sama. Ya, perasaan itu masih sama tapi pandangan hidupku sudah berubah. We’re all growing up, Daniel…”
“Is love not enough?”
“Terkadang hati harus mendengarkan pikiran. Kata hati bukanlah satu-satunya insting yang kita punya. I’ve moved on and I wish for the exactly same thing for you…”
Ingin sekali Anette menangis karena luka di hatinya terbuka kembali tapi ia tahu kalau ini adalah yang terbaik. Ia punya masa depan terbentang di hadapannya, mungkin Daniel pernah menjadi kebahagiannya tapi ia tahu kalau hidup harus terus berjalan.
Sama seperti sebuah awal yang pasti maka apabila sebuah akhir datang maka kita harus bisa tegas menentukan pilihan. Tidak ada yang setengah-setengah untuk mendapatkan yang terbaik. Anette sudah memilih, ia harus mengakhiri masa lalunya dengan tegas sebelum membentuk awal yang baru.
“Aku harus pergi…” ujar Anette. Ia tidak ingin tinggal lama-lama dan membiarkan keadaan membuatnya berubah pikiran. Ia tidak ingin bermain dengan hatinya, ia tahu kapasitasnya dan juga kapasitas Daniel.
Anette bangkit dari tempat duduknya, ia menatap Daniel kemudian mengusap pipi Daniel lembut.
“You’ll find another me…I know you will. Your past will always be mine, that’s who I am; your past. Mine too will always be yours. Goodbye, Daniel…”
Anette melangkahkan kakinya keluar dari coffee shop itu. Menahan sakit di hatinya tapi ia sudah pernah melewati sakit ini di masa lalu, kali ini akan menjadi lebih mudah. Lebih dari itu, ia lega.
Tiba-tiba tangan Anette digenggam erat oleh sebuah tangan yang hangat.
“Well well well…” ujar suara berat penuh kehangatan.
Anette menatap Ezekiel disampingnya, Ezekiel memberikannya sebuah senyuman sebelum menarik tubuh Anette merapat di sisinya.
“I’m sorry…” ujar Anette lirih, menghentikan langkahnya dan memeluk Ezekiel erat.
“Untuk apa?”
“Aku enggak tau…” guman Annete di dada Ezekiel sambil memejamkan matanya.
“Hey, if it’s about him, it’s okay, Love…” Hiel melepaskan Anette dan merengkuh wajahnya. “He’s your past and I respect every single thing of your memories. But I am your future, ain’t I? Jadi kenapa aku harus khawatir?”
Anette tersenyum. Mungkin ia akan selalu merindukan kehidupan bersama Daniel tapi ia tahu kalau inilah hidupnya sekarang dan ia juga sudah menggambarkan kehidupannya di masa depan dengan harapan juga cita-citanya.
Bad boys always has their own way to make girls run back to their arms, but a perfect guy would never ever let you go that’s why you don’t have to run back because they’re holding you perfectly steady in their arms…
Setiap petualangan pasti ada tempat perhentiannya dan Ezekiel adalah perhentian Anette.Friday, May 14, 2010
Tentang Teman Sebangku
Suaramu lembut terdengar sayu namun tegas
Wajahmu indah dan menghangatkan bak mentari pagi
Segala tentangmu adalah murni dan tulus
Setiap pagi kita bertemu
Setiap pagi kita tertawa
Setiap pagi aku bercerita dan kau mendengarkan dengan seksama
Ya, kau selalu mendengarkan…
Tapi hari itu datang…
Hari ketika hariku kosong
Ketika tempatmu diisi oleh orang yang berbeda
Ketika kau tidak datang untuk waktu yang lama
Tuhan memberikanmu sesuatu yang mungkin hanya kau dan Dia yang tahu keindahannya
Tuhan memberikanmu jalan yang tidak ada di dalam rencanamu
Tapi, hal itu membuktikan seberapa tangguh dirimu
Kusaksikan setiap langkah pergumulanmu…
Ya, aku melihatmu bergumul
Bagian tersedih adalah aku tidak bisa berpartisipasi di dalamnya
Kasihan adalah kata yang tak pernah terlintas di benakku
Karna kutahu kau mampu…
Tapi Ia punya rencana lain untukmu, temanku…
Rencana paling sempurna
Rencana yang menyempurnakan setiap rencana dan impianmu
Ia memanggilmu dengan lembut ke sisi-Nya…
Karna Ia tahu sudah saatnya kau berhenti bergumul
Karna Ia tahu sudah saatnya kau beristirahat dan bahagia selalu
Karna Ia tahu kalau wanita terkuat di dunia pun tetap butuh sandaran
Dan mungkin sandaran yang paling tepat untukmu adalah di pundak-Nya….
Kau tidak pernah terenggut…
Kau hanya pergi…
Tapi…
Tahukah kau kalau kau selalu ada di hati ini…selamanya
Dedicated to Almarhumah Nina Rahmi Rizkiah
My chair mate in 12 IPA 4 2008/2009
I miss you so much eventually...
