Tuesday, May 7, 2013

The Dark Room

You tell all the boys no makes you feel good yeah?
I know you're out of my league but that won't scare me way out no.
You've carried on so long

You couldn't stop if you tried it

You've built your wall so high

That no one could climb it but I'm gonna try.
Would you let me see beneath your beautiful
Would you let me see beneath your perfect
Take it off now girl...” - Labrinth

Samar-samar terdengar bunyi sirene polisi di kejauhan, kota besar ini memang tidak pernah tidur. Kebisingan dihiasi dengan hiruk pikuk orang marah-marah dengan makian kotor atau pekik klakson mobil membahana. Keributan tidak membiarkan mereka yang lelah bekerja seharian untuk tidur tenang.

Di sebuah kamar motel murah yang sempit, seorang perempuan duduk menatap layar laptop. Di bibirnya ada rokok dan tangannya menggengam bir kalengan. Perempuan itu duduk tegak, tipikal orang tak kenal lelah bekerja. Jari-jarinya menari di atas jurnal hitam tebal tapi sudah butut, ia hanya berhenti ketika menenggak bir beralkohol rendah dari kalengnya.

Sudah lewat tengah malam, tapi ia tidak mengantuk. Banyak yang harus ia tuliskan. Pengalaman yang tidak pernah bisa ia utarakan lewat bibir hitamnya. Ya, bibir hitam upah dari merokok berbungkus-bungkus Marlboro merah.

++++

Cuaca di Hong Kong hari itu cukup cerah, angin musim semi menerpa wajah Beyba. Ia merapatkan jaket panjang yang melapisi kaos putih tipis dan skinny jeans rombeng. Jalanan tampak padat seperti biasanya, di pinggir jalan banyak orang India menawarkan motel atau alat transportasi. Beberapa malah menggoda Beyba, tetapi wanita itu berjalan tanpa henti menuju Victoria Bay. Sendirian. Kesendirianlah yang ia butuhkan hari ini dan seminggu ke depan.

Duduk di pagar menghadap ke arah Hong Kong Island memang cukup mengobati setiap luka yang ia berusaha obati. Sambil menatap kapal-kapal kecil berseliweran, ia mengeluarkan note dan pensil dari saku jaketnya. Pensil itu mulai menari di atas kertas kecil note sampai dua jam berikutnya. Tangannya sedikit pegal, tapi ia tidak peduli. Sudah lama ia berhenti peduli.

++++

“Aku selingkuh, kamu tau itu kan?”
“Yeah, sudah yang ke tiga belas kalinya bukan?”
“Kenapa kamu enggak marah?”
“Mungkin karena aku sudah berhenti merasakan apapun.”
“Kenapa kamu enggak cemburu? Kamu enggak sayang sama aku?”
“Aku cinta sama kamu, tapi aku sudah berhenti peduli.”
“Jadi kamu mau kita putus atau lanjut?”
“Aku mau kita lanjut.”
“Apa yang mau dilanjutin dari hubungan yang sudah rusak kaya begini?”
“Cinta kita.”
“Aku enggak cinta sama kamu…”
“Ah…itu baru hal baru.”
“Beyba…”
“Sudahlah, kita hanya punya beberapa bulan lagi sebelum kita pisah. Benar-benar pisah. Jadi kenapa enggak manfaatin waktu aja.”
“Manfaatin waktu untuk apa?”
“Untuk saling memanfaatkan satu sama lain.”
“….”
“Aku memanfaatkan kamu karena hanya kamu yang bisa bikin aku bahagia dan merasa sempurna. Sedangkan kamu memanfaatkan aku untuk selalu menerima kamu kembali.”
“Bagaimana kalau aku sudah tidak ingin kembali?”
“Hmm…satu lagi hal baru. Tapi, bukannya kamu tau kalau aku selalu punya cara untuk membuat kamu kembali?”
“Well, kamu aneh, Beyba.”
“Nah, yang itu aku sudah sering mendengarnya. Baiklah, nanti malam kita dinner bareng. Jemput aku jam 7 dan tolong segera putusin selingkuhan kamu. Aku tidak suka bersaing terlalu lama. I love you.”

Dengan satu kecupan ringan di pipi, Beyba melangkah pergi meninggalkan Cavi.

++++

“Beyba, hari ini hari wisuda kamu. Kamu mau kemana?”
“Bu, aku mau pergi. Aku udah beli tiket dan kebetulan tiketnya siang ini. Aku enggak bisa ikutan wisuda.”
“Apa? Kamu gila apa?”
“Aku enggak gila, buktinya ijazah ku sudah ada. Buat apa acara wisudaan? Lagian panas pake toga.”
“Kamu tuh Beyba, ngomong sembarangan aja. Tidak, Ibu enggak akan ijinin kamu pergi. Kamu harus wisuda dulu.”
“Telat Bu, Beyba pergi. Salam buat pak dekan!”
“Beyba!”

++++

Beyba berhenti menulis ketika matahari sore sudah menyilaukan matanya. Mengangkat kepalanya ragu, pandangannya disambut oleh hamparan biru laut yang membatasi Hong Kong dan Kowloon. Ia selalu menyukai Hong Kong. Kota miniature New York tetapi sedikit lebih ramah. Dibangun dengan keuletan bangsa China, dengan Inggris sebagai panutannya. Beyba selalu suka Hong Kong.

Hong Kong dimana segala sesuatunya berawal. Hatinya masih sakit mengingat perpisahan pedihnya dengan Cavi. Bohong kalau Beyba tidak pernah mencintai Cavi, Cavi adalah hidupnya. Mereka sudah saling mengenal sejak pertama kali kuliah, Beyba mencintai Cavi. Tapi, ternyata umur cinta terlalu pendek di hubungan mereka. Tidak, bukan untuk mereka, tetapi untuk Cavi.

Pertama kali Cavi berselingkuh, Beyba merasa jantungnya dicabik dan rasa sakitnya terlalu perih untuk diceritakan. Kedua kalinya, Beyba meninggalkan Cavi tetapi pada akhirnya mereka selalu menemukan jalan untuk tetap bersama. Setelah ketiga kali dan seterusnya Beyba tidak lagi merasakan apapun. Semua orang menghakimi ia adalah perempuan bodoh. Yeah, mungkin, perempuan bodoh yang terlalu cinta. Cinta bernafaskan obsesi. Lagipula Beyba selalu tahu kalau Cavi tidak akan pergi terlalu jauh. Jadi, untuk apa Beyba repot-repot meninggalkan Cavi ketika ia sendiri mulai lelah berlari.

Rasa sakit dan rasa sempurna adalah rasa hubungannya dengan Cavi. Sakit, ya. Tapi, Cavi juga melengkapi Beyba. Rasa lengkap yang tidak bisa diberikan oleh rumahnya.

“Bodoh…” maki Beyba pada dirinya sendiri ketika ia mengizinkan sebentuk kenangan masa lalu menghantui dirinya.

Ditenggaknya habis bir kalengan dan ia menyalakan sebatang rokok, ia harus segera mengusir semua rasanya sebelum pulang.

++++

“Sepertinya aku pernah liat kamu,” suara barritone ringan itu membuat Beyba mendongak dari buku Lonely Planet yang sedang asyik ia baca. Ia tidak ingin merusak solo trip nya ke Hong Kong kali ini. Ia suka kota ini, little New York di Asia.
“Ya? Siapa ya?” tanya Beyba mengamati cowok dengan rambut berombak dan kilatan jenaka di matanya. Ia cukup good looking tapi sama sekali bukan tipe Beyba. Cowok itu mengenakan celana jeans belel dengan kaos John Mayer. Nice point! Ia suka John Mayer, penyanyi folks kesukaan Beyba. Beyba kembali menatap cowok itu penasaran, apa maunya cowok itu dengannya.
“Kamu kalo ga salah namanya, Leyla?” cowok itu mengambil tempat duduk disamping Beyba tanpa diundang.
“Beyba maksudnya?”
“Oiya Beyba, maaf...” kata cowok itu merona. Wait what, cowok ini bisa merona. Beyba harus mengakui kalau cowok itu terlihat sangat cute ketika merona.
“Dan kamu, err siapa?” Beyba merasa punya kewajiban untuk menanyakan pertanyaan yang sama. Walau sebenarnya ia tidak begitu peduli.
“Aku Cavi!” dengan semangat cowok itu menyodorkan tangannya pada Beyba. Dijabatnya tangan Cavi dengan enggan oleh Beyba.
“Ha-halo...” kata Beyba clueless.
“Kamu mau ke Hong Kong?” Cavi melirik Lonely Planet bertuliskan Hong Kong di pangkuan Beyba.
“Yep, seems like it. Kamu mau traveling kemana?”
“Hong Kong juga,” kata Cavi sumringah, membuat Beyba bingung. Mengapa cowok di hadapannya seperti remaja ceria. Selalu tersenyum dan riang. Benar-benar bukan tipe nya.
“Oh...” kata Beyba mengangat bahu sekilas, tidak begitu tertarik. Ini adalah solo trip pertamanya tanpa Ibu nya protektif. Ia ingin benar-benar menikmati kebebasannya.
“Aku punya tawaran ke kamu,” kata Cavi tiba-tiba.
“Apa?” tanya Beyba tanpa mengalihkan tatapannya dari Lonely Planet yang sedang menarasikan tentang Repulse Bay.
“Kalo kita randomly ketemu di Hong Kong berarti kita jodoh dan kita akan berkencan di kota cantik itu! Gimana?”

Beyba menatap cowok itu seperti ia baru berjalan di atas air. Benar-benar mengejutkan dan impulsive. Sesaat kemudian Beyba tertawa ngakak tanpa manner dan memeluk perutnya yang sakit. Bagaimana tidak? Orang asing yang entah bagaimana sudah mengenalnya tiba-tiba memberikan tawaran aneh seperti itu. Selama ini Beyba tidak begitu peduli dengan cinta-cintaan, ia merasa cinta belum waktunya memasuki hidupnya. Jodoh? Terlalu jauh.

“Kok kamu ketawa?” tanya Cavi tampak serius. Beyba menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya dan menatap Cavi dengan tatapan ‘duh’.
“Gini ya Cavi, aku bahkan ga tau kamu dateng darimana, other planet perhaps? Lalu kamu tiba-tiba bilang kamu kenal aku, walaupun ehem... dengan nama yang salah. Then you give me this offer about jodoh and stuff. Just to be clear, I’m in my very first solo trip so I would really like enjoy it without any pressure or whatsoever. Got it?” Beyba menatap tajam cowok di hadapannya.
“Kamu benar-benar seperti yang mereka bilang ya? And by the way, sarcastic point well made.”
“Mereka? Mereka siapa?”
“Bukan siapa-siapa. Well, the challenge is mine then, Beyba. We will meet randomly in Hong Kong, Beyba. To prove that we’re mean to be.”
Dan sekarang cowok itu benar-benar mengganggu Beyba. “Stalker much?”
“Well, stalker don’t rely on random situation. I’ll see you...”

Dengan kata-kata itu Cavi pergi meninggalkan Beyba yang masih bingung di kursi ruang tunggu bandara. Ia masih bengong dengan kejadian barusan. Benar-benar tak terduga. Akhirnya ia cepat-cepat mengusir Cavi dari pikirannya dan kembali memusatkan dirinya pada bukunya. Hong Kong terlalu besar untuk memberikan situasi acak yang diharapkan Cavi.

++++

“Bey, jadi kapan lo mau pulang dari tempat persembunyian lo? Cavi nyaris gila Bey,” terdengar cerewetan comel Ana, sahabatnya. Ia kangen Ana, tapi ia lebih suka tempat persembunyiannya yang sekarang.
“Cavi? Masih hidup aja tuh orang,” kata Beyba cengengesan.
“Hah?”
“Bilang aja ama dia untuk move on, Na. Gw lagi stuck. Sama dia. Lagi.”
“Bey...”
“Stop stop stop, gw tau lo mau ngomong apa. Gw tau lo mau nguliahin apa, tapi please gw lagi gamau dikuliahin. Udah enek 4 tahun dikuliahin sama kampus,” Beyba cengengesan lagi.
“Serius deh Bey, lo harus pulang. Nyokap lo nanyain lo terus tuh, lo gila kali ya?”
“Gw waras kok, gw pasti pulang. Tapi gw harus siap.”
“Tapi, Cavi?”
“Cavi akan baik-baik aja, gw juga. Lo juga. Nyokap juga. See you, Na!”

Klik.

Begitu ia meletakan telepon, Beyba melipat lututnya. Ia kesepian, lalu nama Cavi. Ia tidak ingin mendengar nama itu lagi.

++++

Jadi beginilah Hong Kong, kepadatan dimana-mana, ribuan pasang kaki berjalan cepat menabrak-nabrak Beyba yang terbiasa berjalan lambat. Ia merasa seperti dikejar-kejar keramaian orang yang bergerak seperti robot. Padahal ia masih ingin bermalasan di jalan, menikmati setiap pemandangan baru.

Kakinya berhenti begitu tanda lampu merah untuk pejalan kaki menghadangnya. Ia menatap ke seberang, ramai sekali. Berkhayal sedikit tentang hal random khas otak uniknya; bagaimana jadinya kalau semua orang berjalan berbarengan dalam satu dimensi lurus dan mereka bertabrakan dengan kecepatan tinggi di tengah jalan. Pasti akan ada efek domino dan mereka akan menerima pelajaran berharga untuk sedikit bersabar. Melambat. Entah kenapa pikiran konyol itu membuat Beyba cekikikan sendiri sampai membuat beberapa orang di depannya melihatnya bingung. Beyba hanya mengangkat bahu tak peduli.

Lampu merah berubah menjadi hijau terang di tengah mendungnya musim semi. Beyba merapatkan jaketnya sambil melangkah mantap menyebrangi perempatan ramai Mongkok. Daerah paling heap di Hong Kong. Ia terpaksa berjalan cepat mengikuti arus manusia serba terburu-buru sebelum tangannya ditarik dari arah berlawanan. Dan disanalah si stalker itu berdiri, Cavi.

“Gotcha!” kata Cavi tersenyum lebar.
“Kok bisa?”
Tut tut tut... lampu sebentar lagi berubah menjadi merah, cepat-cepat Cavi menarik Beyba berlari ke sisi seberang.
“Hai, Beyba!” sapa Cavi begitu mereka tiba di depan pertokoan. Beyba menghentakan tangannya lepas dari genggaman Cavi. Dasar stalker gila.
“Sumpah lo tuh creepy banget, lo beneran stalker ya? Penculik lo! Gw tuh mau nyebrang kesana, bukan ke arah sini,” Beyba cemberut karena harus kembali ke sisi tempat ia menunggu lampu hijau.
Cavi hanya tersenyum lebar menanggapi muntahan kemarahan Beyba. Seperti yang sudah Cavi duga, Beyba adalah cewek galak dan berkarakter. Ya, berkarakater, matanya memang tidak pernah salah.
“Kita harus nge-date sekarang. Kamu mau kopi?”
“Hah?” Beyba termangu melihat cowok di hadapannya, bisa-bisanya dia dengan santai mengundang Beyba minum kopi. Belum Beyba menyemprot Cavi lagi, ribuan tetesan hujan mulai mengguyur mereka.
‘Tuh kan! Pas banget hujan! Ayo!” Cavi menarik Beyba berlari menembus hujan musim semi, hujan yang mengawali kisah mereka. Kisah yang berfondasikan situasi acak dan bergantungkan takdir.

Hujan, secangkir kopi, dan seorang cowok asing yang menaklukan si cewek galak pada akhirnya.

++++

“I can show you the world, shining shimmering splendid... tell me princess now when did you last let your heart decide?”

Beyba mengerutkan keningnya bingung melihat taman bermain di depannya dengan lagu bertemakan Disney yang berkumandang megah. Bisa-bisanya ia membiarkan orang asing gila satu itu mengajaknya ke Disneyland. Padahal ia ingin bersantai di Kowloon Park, sekedar menikmati sinar matahari dan angin musim semi. Melamun menatapi air mancur, flaminggo berkeliaran, atau melamun di kebun mawar tersembunyi. Wisata Hong Kong bebas biaya tetapi tetap menyenangkan.

“Heh cowok aneh, kenapa bisa kita kemari sih? Mau ngapain?” tanya Beyba bete. Tidak mengerti lagi juntrungan cowok aneh dihadapannya yang tampak kegirangan melihat ornamen disney.
“Loh kamu ga suka Disney?”
“Ga,” kata Beyba cemberut.
“Kenapa? Kan Disney selalu ngingetin kita sama masa kecil. Nyenengin loh!” kata Cavi berbinar.
“Well Cavi, tidak semua orang punya masa kecil yang ingin dikenang,” kata Beyba suram.
Cavi menghampiri Beyba dan menggenggam tangannya, ia masih tersenyum.
“Ya udah, kalau gitu aku akan buatin kamu kenangan baru tentang Disney. Kenangan tentang kita! Ayo!”
“Hah?” tanya Beyba bingung sekaligus terpana dengan apa yang baru saja ia dengar.
“AYO!” seru Cavi tersenyum lebar sambil menarik Cavi, mau tidak mau Beyba ikut tersenyum. Kebahagiaan Cavi menular cepat dan menguasai setiap sel tubuh Beyba—ia pun ikut bahagia.

Dan mereka pun membuat sebuah kenangan, kenangan yang tidak pernah terhapus...

++++

Beyba melangkahkan kakinya keluar dari pesawat dan langsung merasakan gigitan matahari Jakarta. Ia meringis sedikit dengan perbedaan cuaca antara Hong Kong dengan Indonesia, tetapi ia tidak mengeluh. Pelariannya sudah membuatnya mampu menghadapi hal yang ia hindari.

Sambil menunggu di belt bagasi ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna merah jambu dengan ukiran emas. Ia menatapi kartu itu sejenak sebelum mengecek jam, berharap ia masih sempat menunaikan tugasnya. Kartu itu kemudian ia masukan kembali ke dalam ranselnya ketika ia melihat tas hitam familiar di hadapannya. Dengan tanggap Beyba mengambil koper kecilnya dan berjalan menghadapi takdirnya.

++++

Beyba melihat punggungnya menghadap ke balkon apartemennya, dengan hati-hati Beyba meletakan kopernya di dekat pintu masuk. Berjalan menuju ke arahnya, Beyba tertangkap basah oleh Cavi yang berbalik. Mata cowok itu melebar menatap gadis yang sedang menghampirinya.

“Hai,” sapa Beyba pelan. Menahan setiap luapan emosi yang mengalir dalam darahnya. Ia sudah berjanji kepada dirinya untuk mematikan setiap emosi dan ia tidak berencana untuk mematahkan janjinya sendiri.
Cavi menghampiri Beyba dan berdiri di hadapannya. Ia tidak menyentuh Beyba, hanya menatapinya. Raut wajahnya lega, tetapi keningnya mengerut begitu melihat bibir hitam Beyba.
“Kamu merokok lagi,” kata Cavi.
“Aku selalu merokok dan well, berencana berhenti setelah ini,” Beyba mengangkat bahunya tidak peduli.
“Kita harus bicara, Bey—“
“Bukan, bukan kita, tapi aku. Kamu sudah cukup bicara, kini dengarkan aku baik-baik karena aku enggak akan pernah mengulangi kata-kata ini.”
Beyba menatap Cavi tepat di matanya, sebelum menghembuskan nafas untuk mengatur luapan kata-kata tertahan di mulutnya.
“Cavi, aku cinta kamu. Sangat cinta sampai aku terobsesi. Obsesi yang membuat kita berdua sama-sama menderita. Obsesi yang membuat aku tidak melihat kalau kamu tidak bahagia. Obsesi yang membuat aku mengikatmu dan kamu justru semakin sulit dijangkau...”
“Beyba...” Cavi menangkup wajah Beyba.
“Ini pengkhianatan terakhir kamu, Cavi. Ini harga diri terakhirku memaafkanmu untuk meninggalkanmu,” bisik Beyba.
“Aku minta maaf untuk semua luka yang aku sebabkan untuk kamu...”
“Luka itu udah jadi bekas Vi, sejak aku menerima ini,” Beyba mendorong Cavi sambil memberikan kartu pink di tangannya.
“A-aku, dia—“
“Aku mengerti,” Beyba membalikan badannya mengambil koper dan bersiap keluar dari apartemen Cavi.
“Bey, Meila hamil tapi kamu tau aku cinta sama kamu—“
“Well, kalau begitu itu hukuman kamu Cavi!” kata Beyba tajam. “Hukuman kamu atas pengkhianatanmu. Lucu, aku begitu mencintaimu dan bersedia menerimamu kembali sekarang. Tapi, see? Takdir itu membenci kita. Ia membenci wanita lemah seperti aku dan pria brengsek seperti kamu. Hukumanku adalah ditinggalkan. Hukumanmu adalah tidak bisa memilikiku karena kesalahan kamu sendiri. Kita impas.”

Cavi meraih Beyba, dan seperti yang Beyba bilang, ia lemah. Ia terlalu lemah bila menghadapi Cavi--ia    bahkan tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Cavi. Cavi menempelkan dahinya di ke dahi Beyba, lelaki itu memejamkan matanya.

“I have tried, and tried, and tried to climb your goddamn high and thick wall. Aku mengemis untuk mendapatkan sedikit emosi dari kamu, Beyba. Tapi pada akhirnya aku berhasil, berhasil meruntuhkan dinding itu justru ketika aku meninggalkan kamu demi orang lain,” ujar Cavi lirih.

Beyba memejamkan matanya, inilah saat yang tepat agar ia berhenti. Menyampaikan sesuatu yang tak pernah tersampaikan.

“I loved you Cavi, but now you are no longer my love. You have become my inspiration, my muse, the reason why my hand's still dancing in her note. Too bad most people never been together with their muse...and apparently I am one of them. Goodbye.” 

Beyba meraih kepala Cavi dan mengecup keningnya sebelum meninggalkan lelaki itu.

Beyba melangkah pergi, meninggalkan Cavi yang termangu menatapi punggungnya. Ia lega. Ceritanya menemui yang pahit. Tidak, tidak pahit—buktinya ia tersenyum penuh kemenangan. Semua yang tak tersampaikan kini tak lagi rahasia dalam ruang gelap hatinya. Dan mungkin hati Cavi...

Kini Cavi sudah tertinggal di belakangnya, tinggal satu masalah lagi yang harus dia selesaikan.

++++

Bunyi suara mobil yang begitu familiar membuat Beyba merapikan meja ruang makan dan juga rambutnya, dengan manis ia duduk di ujung meja. Berbagai jenis makanan telah di atur di meja makan dengan rapi. Hatinya ketar-ketir, ia menggigit bibirnya. Khawatir dan takut.

Klik. Bunyi suara pintu rumahnya terbuka.

Tak lama kemudian seorang wanita setengah baya yang sudah lama diabaikan oleh Beyba memasuki ruangan dengan wajah penuh tanda tanya. Wanita itu terkejut melihat anak sematawayangnya duduk, mengenakan gaun yang anggun, rambutnya disisir rapi, dan ada sapuhan make up yang mempercantik wajah manis Beyba.

“Beyba...”
“Selamat datang Bu, aku udah siapin makan malam buat Ibu. Ibu mau kan makan bareng-bareng sama aku?” tanya Beyba gemetar, ia takut menghadapi reaksi ibunya.

Ibu Beyba hanya menatapi anaknya, tidak tahu harus berkata apa. Beliau terlalu terkejut dengan sikap manis Beyba.

“Kamu sudah pulang?”
“Iya...”

Ibunya kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Beyba, suasana hening menyelimuti mereka sebelum akhirnya Beyba menyodorkan sebuah amplop cokelat kepada Ibunya.

“Apa ini, Bey?” tanya ibunya bingung.

Beyba hanya terdia ketika ibunya pun mengambil amplop tersebut. Dibuka dan dibacanya isi amplop itu, beberapa detik kemudian beliau menahan napas dan menatap Beyba, terbelalak.

“Aku diterima jadi legal officer perusahaan favorit ibu, aku akan menggunakan ilmu ku dengan baik seperti yang ibu mau. Mulai sekarang aku yang akan bekerja. Sudah saatnya ibu menjadi ibu rumah tangga kebanyakan, bukan wanita karir yang membanting tulang demi menghidupi aku. Aku sudah tidak perlu dibiayai, sekarang aku yang akan menyokong Ibu. Aku butuh seorang Ibu, bukan penyalur dana. Sudah terlalu lama ibu menjadi tulang punggung. Semenjak papa ninggalin kita dan itu sudah sepuluh tauh yang lalu, kini udah saatnya aku yang menjadi tulang punggung. Oke?”
“Bey...”
“Udah, ayo kita makan Bu, nanti makanannya dingin,” kata Beyba tersenyum hangat ke ibunya. Senyuman yang sudah bertahun-tahun ia tidak berikan kepada ibunya.

Beyba menuangkan nasi ke piring ibunya lalu berkata, “Ibu mau brokoli atau—“

Tangan Beyba berhenti ketika ibunya memeluk Beyba erat kemudian menciumi anaknya penuh sayang. Beyba terdiam kaku sebelum akhirnya ia bersandar pada ibunya. Ia berada di tempat yang seharusnya. Dan ia sangat bahagia, kebahagiaan yang lengkap.

++++

Debur ombak mengiringi ayunan kaki Beyba di pinggir dermaga. Sebentar lagi sore, tapi pena nya tidak juga bergerak. Ia tidak bisa menulis, tidak bisa lagi. Kertasnya kosong,.

Beyba menghela nafas berat sebelum berdiri dan berjalan pergi, membelakangi matahari terbenam. Matahari yang tenggelam bersama dengan jurnal dan pena kesayangannya.

Ia baru saja meninggalkan inspirasi nya. Membuka lembaran baru dan menunggu kapan waktu memanggilnya untuk bisa menulis lagi. Tidak ada yang tahu, Beyba juga tidak tahu. Namun ia tidak peduli, ia adalah seorang penulis. Setiap penulis tahu inspirasi bisa datang kapan saja dan dimana saja. Suatu haru inspirasi itu pasti juga akan menemukannya. Beyba yakin itu.

Hidupnya terlalu irasional untuk memahami sesuatu yang rasional. Dan Beyba suka itu...

~The End~


A/N: I know this one is (a bit) dark . This baby is unusual for me, but I have to write it. I don't know why. I hope you enjoy it, people. And thanks to Ruriana, I have finally found the right song for this one. 

Monday, March 11, 2013

Happiest Day


I’ll be waiting for you here inside my heart
I’m the one who wants to love you more
You will see I can give you everything you need
Let me be the one to love you more…

                        To Love You More, David Foster

Kutatapi bayanganku di cermin, tubuhku dibalut dengan gaun putih berpotongan anggun. Ada sebuah pita kecil berwarna ungu Lavender di sekeliling pinggangku, pita itu mempermanis gaun putih berbahan sifon yang aku kenakan. Riasan minimalis kusapuh tipis dan sederhana di wajahku, tidak perlu terlalu tebal karena bukan aku pusat perhatiannya malam ini.

Kunaikkan sedikit dagu ku, kuarahkan tatapanku lurus ke cermin, lalu aku tersenyum. Saat ini aku sedang berlatih tersenyum, ya berlatih tersenyum untuk hari ini. Hari ini adalah hari bahagia. Semua orang pasti selalu ingin menampilkan senyum terbaik mereka di setiap hari bahagia, bukan? Hal itu juga terjadi padaku, aku ingin tersenyum dengan kebahagiaan hari ini. Walau ketika aku mengintip melalui tirai putih di kamarku, aku bisa melihat kalau langit sedikit mendung. Tampaknya akan hujan. Semoga saja tidak karena halaman belakang rumah ini sudah disulap sedemikian rupa agar tampak indah untuk menyambut tamu-tamu yang akan datang tidak lama lagi.

Suasana hari ini benar-benar sakral, aku sedikit gugup memikirkan hal itu. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah besar tempat aku menginap beberapa waktu sampai acara ini selesai. Kuhela nafas panjang, segera kukenakan sepatu putihku dan keluar dari kamar. Kutelusuri lorong rumah yang panjang dan berkarpet abu-abu ini, rumah ini terasa sangat asing namun juga menenangkan. Aku pasti tidak akan pernah melupakan tempat ini sampai kapanpun.

“Charsa?” suara itu menghentikan langkahku.

Aku berbalik dan disanalah ia berdiri, mengenakan tuksedo berwarna putih yang memamerkan tubuh tegap mempesonanya. Wajahnya bersih dari facial hair, padahal sejauh yang kuketahui dia tidak begitu suka bercukur. Tetapi, tentu saja hari ini ia bercukur. Bagaimana tidak? Hari ini adalah pengecualian dan mustahil ia diizinkan untuk tampil urakan di hari se-istimewa ini.

“Loh kok kamu belom pake dasi?” tanyaku baru menyadari kalau tuksedo nya belum lengkap.

Well, that’s the problem. Kamu tau kan aku enggak bisa pake dasi,” katanya dengan wajah polos yang sudah kukenal cukup lama.

“Hahaha. Dasar!” kataku tertawa pelan sambil menghampirinya.

“Bisa tolongin aku enggak?” tanyanya sambil memasuki kamarnya memberi gesture untuk mengikutinya.

Kamarnya luas bernuansa putih dan abu-abu. Aku bisa mencium wangi parfum yang biasa ia pakai bercampur dengan wangi alami tubuhnya yang sangat maskulin. Tempat tidurnya besar dan serba putih, sayang tertutup dengan banyak peralatan ini-itu. Kusadari bahwa walaupun kami hanya menginap beberapa hari disini tetapi aku merasa kalau hal itu tidak bisa menghalangi karakternya. Kamarnya tetap berantakan seperti kamar pribadi di apartemennya sendiri. Kini aku hanya berharap karakternya tidak akan pernah hilang sampai kapanpun, termasuk ketika hari ini telah lewat.

“Mana dasinya?” kataku bingung melihat begitu banyaknya barang bertebaran.

Ia pasti bisa membaca tatapanku sehingga ia tersenyum seperti orang tertangkap basah karena kamarnya yang kacau balau. Ia berjalan ke arah lemari dan meraih dasi sutra putih dari gantungan. Diserahkannya dasi itu padaku dan kuambil lalu kukalungkan dasi itu di leher kokohnya.

Aku mencari posisi dasi paling ideal, tanganku sibuk membuat simpul dasi yang tepat dan rapi tetapi aku bisa merasakan tatapan matanya padaku.

“Menurut kamu, aku lagi melakukan kesalahan ga, Sa?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaannya menghentikan kesibukanku dan kutatap mata hitam legamnya dengan penuh tanya. Tanpa bersuara kuminta ia untuk menjelaskan maksudnya lebih lanjut dan ia pun meneruskan pernyataan menggantungnya.

“Menurut kamu apa yang aku lakukan hari ini bener ga? Bagaimana kalau hari ini adalah kesalahan? Bagaimana kalau ternyata hal ini cuma bisa bertahan sebentar?”
Aku tersenyum sambil melanjutkan kesibukanku memakaikan dasinya.

“Kenapa kamu bisa berpikir kaya begitu?” tanyaku santai.

“Enggak tau…” jawabnya pelan.

Kuhela nafasku setelah aku menyelesaikan simpul dasinya dan kembali fokus padanya—kepada mata legamnya yang kini tampak seperti orang tersesat.

Do you love her?” tanyaku padanya.

“Yes…” jawabnya.

Does she love you?”

Yes…

Then what’s the problem?”

“Aku merasa kalau cinta itu enggak cukup.”

Kakiku melangkah menjauhinya dan membawaku ke jendela besar yang ditutup oleh gordyn putih transparan. Dari jendela lebar itu aku bisa melihat orang sedang lalu lalang di halaman belakang. Otakku berputar mencari jawaban bijaksana dan tepat untuk semua pertanyaannya.

“Cinta selalu dianggap tidak akan pernah cukup memang, tapi aku selalu percaya kalau cinta adalah fondasi. Menurutku tidak ada yang pernah cukup di dunia ini. Segala sesuatu harus terus berkembang karena waktu tidak akan pernah menunggu kita, begitu juga dengan kehidupan. Tetapi setiap hal butuh fondasi, setinggi atau sebesar apapun perkembangan akan percuma kalau fondasinya enggak kuat. Aku selalu percaya kalau cinta itu cukup, ya cinta adalah cinta dan cinta itu cukup sebagai fondasi.”

Kami berdua terdiam sebelum akhirnya aku mengajukan pertanyaan lagi kepadanya.

“Satu hal, kenapa kamu bisa sampai di tahap ini? Di hari ini? Apa alasan kamu sampai kamu bisa ada di posisi ini?”

Well, karena aku cinta dan aku merasa kalau hal itu perlu dipastikan dengan melakukan segala sesuatunya dengan benar. Seperti keberadaanku disini sekarang adalah bagian dari kepastian itu,” jawabnya. Aku bisa merasakan ia berdiri tak jauh di belakangku.

“Terkadang kita harus bisa membedakan antara cinta dan keinginan untuk memiliki. Cinta itu cukup sedangkan keinginan untuk memiliki selalu menginginkan lebih,” kataku tertawa pelan dan terdengar getir. “Pertama kamu hanya ingin memiliki hatinya, kemudian berkembang dengan ingin menjadikannya sebagai pacar, istri atau suami. Tak cukup dengan itu, kamu ingin memiliki anak darinya, dan begitu seterusnya sampai kalian berdua tua dan meninggal pada akhirnya. Cinta itu sederhana, sedangkan keinginan memiliki terlalu banyak menuntut. Kita harus bisa membedakan itu.”

Aku berbalik menatapnya, wajahnya tertunduk sedih. Rasa bersalah menggelitikku sedikit karena kesedihan yang kutimbulkan di hatinya hari ini—hey, hari ini adalah hari bahagia. Aku bahkan sudah banyak menghabiskan waktuku akhir-akhir ini dengan terus berlatih tersenyum demi hari bahagia ini. Hal itu kulakukan agar dapat terlihat sebahagia mungkin hari ini. Sebab, aku tidak ingin merasakan rasa yang tidak sejalan dengan suasana hari ini—suasana bahagia.
Apalagi dia. Dia harus bahagia hari ini!

Kuhampiri dia dan kusentuh wajahnya dengan lembut.

“Kamu akan baik-baik aja…” kataku tersenyum, tulus kali ini.

“Gimana kamu bisa tahu?” tanyanya.

“Karena aku sangat mengetahui dan memahami kalau hal inilah yang bisa membuatmu bahagia.”

“Kenapa kamu bisa seyakin itu, Sa?” tanyannya lagi.

Kuturunkan tanganku dari wajahnya dan menjawab, “Karena hatiku berkata begitu…”

Ia terdiam sebentar sebelum menatapku dengan senyum manisnya. Ia menarikku ke dalam pelukannya dan tubuh kokohnya melingkupiku dengan sangat erat. Kupejamkan mata, mencoba memberinya segala yang ada padaku dengan harapan aku bisa mengalirkan kekuatan dan keteguhan di hatiku padanya.

“Let’s do this!” katanya setelah melepas pelukannya lalu ia berjalan berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkanku.

Kupandangi punggung kokohnya sambil tersenyum. Beberapa saat ketika pintu kamarnya tertutup dan ia menghilang dari pandanganku, kuijinkan setetes air mata mengaliri pipiku. Sejak kemarin aku berusaha untuk mencegah air mataku dan memaksa hatiku untuk mengikis setiap rasa kehilangan. Tetapi setelah melihat punggungnya menjauh aku sadar bahwa aku merasakan elegi itu.

Tak beberapa lama kemudian, samar-samar terdengar orkestra kecil diluar memainkan lagu Canon in D. Dengan cepat aku berjalan ke arah jendela besar ruangan itu. Kubuka sedikit tirainya dan mengintip apa yang terjadi diluar sana. Aku bisa melihat ia sudah berdiri di hadapan sebuah mimbar dari kaca yang dihiasi pita putih. Mimbar kecil itu berada di ujung karpet merah, dibalik mimbar itu ada seorang pendeta berjubah putih yang siap menyelenggarakan upacara sakral itu.

Kulihat seorang wanita bergaun putih panjang dan bercadar berjalan pelan menuju ke arahnya sambil membawa bunga mawar merah jambu di tangannya. Wanita itu berjalan diiringi dengan pengiring pengantinnya. Ketika wanita itu sampai di dekat mimbar, ia meraih tangan wanita itu dan tersenyum penuh cinta.

“Cinta? Cintaku padamu cukup dan aku lah yang mencintaimu lebih dalam sehingga aku harus memastikan kalau hari ini terjadi. Hari kebahagiaanmu harus terselenggara…”

Kuhapus air mataku dan berbalik. Kutatapi kamarnya, mencoba merekam aromanya sebelum akhirnya aku menyerah dan berjalan kembali ke kamarku. Ketika aku sampai di kamarku, perasaan terasing tiba-tiba menyerangku. Ya, hari ini rumah ini terasa sangat asing.

Mungkin, karena tidak ada ‘rumah’ bagiku lagi disini.

Tiba-tiba aku tersadar kalau aku harus berada disana, berada di saat dia bahagia juga. Aku tidak boleh menyaksikan kebahagiaannya dari jauh. Aku harus menjadi salah satu saksi dan bagian dari kebahagiaannya. Kalau aku memang mencintainya, maka aku harus berbahagia bersama-sama dengan dia.

Aku berlari menuruni tangga menuju halaman belakang. Ketika aku sampai di halaman belakang, aku melihat semua orang dengan khidmat menyaksikan ia mengikrarkan janji nikah dengan begitu manis sambil menatap perempuan itu dengan penuh cinta.

Kutempati sebuah bangku kayu kosong di baris paling belakang tanpa melepaskan tatapanku darinya. Kurekam baik-baik wajah bahagianya.

“Saya nyatakan kalian resmi menjadi pasangan suami istri…”

Ia mengecup kening wanita itu. Dan aku menyaksikannya, menyaksikan kalau ia memang bahagia.

Pelan-pelan ia berjalan bersama dengan wanita yang sekarang adalah istrinya diantara sederetan kursi diiringi dengan sorak-sorai dari tamu undangan. Ia bahagia. Ya, dia bahagia. Aku berdiri, menatapnya mendekat. Ia tersenyum kepadaku dan berhenti tepat di depanku.

Thanks for being the Constance in my life, Charsa…” katanya menggenggam tanganku sebentar sebelum kembali menatap istrinya.

Ini cukup. Aku menatapi kepergiannya, menatap punggung dan gestur bahagianya.

Ya, ini cukup.

Akhirnya aku meninggalkan taman itu dan kembali ke dalam rumah besar asing itu. Di dalamnya para petugas catering sedang hilir mudik mempersiapkan hidangan. Aku pun melewati mereka dengan hati-hati kemudian menaikki tangga mewah menuju ke sederetan pintu di lorong sepi itu.

Tetapi kurasakan ada rasa aneh menjalari hatiku. Rasa ini sangat berbeda dengan yang kurasakan beberapa saat lalu ketika aku membantunya memakai dasi.

Saat ini hatiku tidak hampa lagi, aku bahagia dengan caraku sendiri. Aku bisa berbahagia karena aku mencintainya dengan tulus dan tanpa kesombongan.

Kumasuki pintu kedua di sebelah kiri, tempat yang menjadi kamarku. Kukenakan jaket kulitku. Kemudian segera kusambar koper cokelat serta tas bepergian yang telah kukemasi sejak kemari malam. Aku siap untuk pergi sekarang karena tugasku untuk memastikan kebahagiaannya telah selesai. 

Sebelum aku keluar dari kamar itu, aku sempat menangkap bayanganku di cermin. Untuk terakhir kalinya aku mencoba tersenyum pada bayanganku dan akhirnya aku berhasil.

Ternyata latihan tersenyum untuk hari bahagia ini—well, hari bahagianya—tidak pernah diperlukan karena memang hanya kebahagiannya yang bisa membuatku bahagia.

Pada akhirnya kami berdua sama-sama bahagia walaupun dengan alasan yang berbeda.

Kututup pintu kamar itu dan berjalan pergi meninggalkannya bersama dengan kebahagiaannya sambil menggenggam erat kebahagiaanku sendiri…
~FIN~